Abu Dzar Al-Ghifari - Sahabat dari Ghifar
Abu Dzar al-Ghifari merupakan seorang sahabat Nabi SAW yang terkenal dengan perbendaharaan ilmu pengetahuannya dan kesholehannya. Ali RA berkata mengenai Abu Dzar RA: "Abu Dzar ialah penyimpan jenis-jenis ilmu pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dari orang lain."
Ketika dia mulai mendengar khabar tentang kerasulan Nabi SAW, dia telah mengutus saudara lelakinya menyelidiki lebih lanjut mengenai orang yang mengaku menerima berita dari langit. Setelah puas menyelidiki, saudaranya pun melaporkan kepada Abu Dzar bahwa Nabi Muhammad SAW itu seorang yang sopan santun dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang dibacakan kepada manusia bukannya puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair.
Laporan yang disampaikan itu masih belum memuaskan hati Abu Dzar. Dia sendiri keluar untuk mencari kenyataan. Setibanya di Makkah, dia terus ke Baitul Haram. Pada waktu itu dia tidak kenal Nabi SAW, dan melihat keadaan pada waktu itu dia merasa takut hendak bertanya mengenai Nabi SAW. Ketika menjelang malam, dia dilihat oleh Ali RA. Oleh karena ia seorang musafir, Ali terpaksa membawa Abu Dzar ke rumahnya dan melayani Abu Dzar sebaik-baiknya sebagai tamu. Ali tidak bertanya apapun dan Abu Dzar tidak pula memberitahu Ali tentang maksud kedatangannya ke Makkah. Pada keesokkan harinya, Abu Dzar pergi sekali lagi ke Baitul Haram untuk mengetahui siapa dia Muhammad. Sekali lagi Abu Dzar gagal menemui Nabi karena pada waktu itu orang-orang Islam sedang diganggu hebat oleh orang-orang kafir musyrikin. Pada malam yang keduanya, Ali membawa Abu Dzar ke rumahnya.
Pada malam itu Ali bertanya: "Saudara, apakah sebabnya saudara datang ke kota ini?"
Sebelum menjawab Abu Dzar meminta Ali berjanji untuk berkata benar. Kemudian dia pun bertanya kepada Ali tentang Nabi SAW. Ali berkata: "Sesungguhnya dialah pesuruh Allah. Esok engkau ikut aku dan aku akan membawamu menemuinya. Tetapi awas, bencana yang buruk akan menimpa kamu kalau hubungan kita diketahui orang. Ketika berjalan esok, kalau aku dapati bahaya mengancam kita, aku akan berpisah agak jauh sedikit dari kamu dan berpura-pura membetulkan sepatuku. Tetapi engkau terus berjalan supaya orang tidak curiga hubungan kita."
Pada keesokkan harinya, Ali pun membawa Abu Dzar bertemu dengan Nabi SAW. Tanpa banyak tanya jawab, dia telah memeluk agama Islam. Karena takut dia diapa-apakan oleh musuh, Nabi SAW menasehatkan supaya cepat-cepat balik dan jangan mengabarkan keislamannya di khalayak ramai. Tetapi Abu Dzar menjawab dengan berani: "Ya Rasullulah, aku bersumpah dengan nama Allah yang jiwaku di dalam tanganNya, bahwa aku akan mengucap dua kalimah syahadah di hadapan kafir-kafir musyrikin itu."
Janjinya kepada Rasulullah SAW ditepatinya. Selepas ia meninggalkan baginda, dia mengarah langkah kakinya ke Baitul Haram di hadapan kaum musyrikin dan dengan suara lantang dia mengucapkan dua kalimah syahadah.
"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu pesuruh Allah."
Tatkala mendengar ucapan Abu Dzar itu, orang-orang kafir pun menyerbunya lalu memukulnya. Kalau tidak karena Abbas, paman Nabi yang ketika itu belum Islam, tentulah Abu Dzar menemui ajalnya di situ.
Kata Abbas kepada orang-orang kafir musyrikin yang menyerang Abu Dzar: "Tahukah kamu siapa orang ini? Dia adalah turunan Al Ghifar. Khafilah-khafilah kita yang pulang pergi ke Syam terpaksa melalui perkampungan mereka. Kalaulah ia dibunuh, sudah tentu mereka menghalangi perniagaan kita dengan Syam."
Pada hari berikutnya, Abu Dzar sekali lagi mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan orang-orang kafir Quraisy dan pada kali ini juga ia telah diselamatkan oleh Abbas.
Kegairahan Abu Dzar mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan kafir Quraisy sungguh-sungguh luar biasa jika dikaji dalam konteks larangan Nabi SAW kepadanya. Apakah dia bisa dituduh telah mengingkari perintah Nabi? Jawabannya tidak. Dia tahu bahwa Nabi SAW sedang mengalami penderitaan yang berbentuk gangguan dalam usahanya ke arah menyebarkan agama Islam. Dia hanya hendak menunjukkan Nabi SAW walaupun ia mengetahui, dengan berbuat demikian dia melibatkan dirinya dalam bahaya. Semangat keislamannya yang beginilah yang telah menjadikan para sahabat mencapai puncak keimanan dalam alam lahiriyah serta batiniyah.
Keberanian Abu Dzar ini selayaknya menjadi contoh kepada umat Islam dewasa ini dalam rangka usaha mereka menjalankan dakwah Islamiyah. Kekejaman, penganiyaan serta penindasan tidak semestinya bisa melemahkan semangat mereka yang telah mengucapkan dua kalimah syahadah.
Miftachul Arifin - Milis Padhang Mbulan, Last Revised : Selasa, 10 Mei 2100 1
learning father
Wadah Inspirasi Bagi Para Ayah Pembelajar
Sabtu, 18 Juli 2009
Sabtu, 11 Juli 2009
Ibu....
Tulisan tentang kemuliaan seorang ibu agaknya tak pernah ada habisnya ..
Artikel di bawah adalah salah satunya, semoga kita mampu mengambil hikmah dan manfaat darinya ...
Semoga bermanfaat ..
Kasih Ibu Sepanjang Jalan, Kasih Anak Sepanjang Penggalan
oleh : Ummu Mufais Jumat, 20/02/2009 13:45 WIB
Eramuslim
" Kasih Ibu kepada beta...tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia "
Penggalan lagu di atas mengingatkan saya ketika kecil dulu, sering sekali saya menyanyikannya. Cinta Ibu tak dapat terbalaskan, mungkin itu kata-kata yang sering kita ucapkan sebagai anak, karena setiap Ibu selalu memberikan kasih sayangnya dengan tulus, pada anak-anaknya, tanpa meminta bayaran, atau balasan dari semua kasih sayang yang telah di berikannya. Namun adakalanya ketika anak-anak sudah besar banyak perbedaan yang menimbulkan pertengkaran pada keduanya. Keinginan-keinginan anak suka berbenturan dengan Orang tua, terutama Ibu. Kadang si Ibu ingin yang A, tapi si anak ingin yang B.
Apa lagi kalau saya lihat kehidupan di Jerman, banyak sekali perbedaan yang mencolok, antara orang tua dan anak, terutama ketika anak-anaknya mulai beranjak dewasa, kebebasan sudah mulai menjadi teman si anak, entah itu dari mulai senang pesta, merokok, dan berpakaian dengan model yang aneh-aneh.
Adakalanya si Ibu suka mungkin merasa anaknya sudah besar, adakalanya tidak. Seperti beberapa waktu lalu saya melihat di TV, ada seorang anak yang tidak di izinkan oleh ibunya untuk bergaul dengan anak-anak jalanan, umur mereka kira-kira 18 tahun, mereka seringnya kumpul-kumpul di tempat-tempat tertentu sambil minum-minuman keras. Tapi karena anak itu tidak terima saat di larang, maka dia pergi meninggalkan rumah orang tuanya. Disinilah sebenarnya peran Orang tua menjadi tidak bermanfaat, karena mereka lebih memilih jalan hidup mereka sendiri dan kesenangan mereka. Sehingga melupakan Orang tuanya, yang telah melahirkan dan membesarkannya.
Seperti susu di balas dengan air tuba, begitulah peribahasa yang sering kita dengar, ketika si anak mulai membangkang dan mulai mengabaikan semua keinginan serta nasehat orang tuanya. Kadang kesalahan tidak melulu pada si anak, kemungkinan besar ada juga pada orang tuanya yang kurang tegas pada si anak dan seringnya si anak di beri kelonggaran, sehingga buat si anak jadi terbiasa. Dan kebiasaan-kebiasaan buruk si anak yang tidak terkontrol, sehingga kebabalasan, yang akhirnya menjadi candu untuk anak itu sendiri. Saya melihat ada beberapa orang Jerman yang merasa berat untuk memiliki anak, sehingga mereka lebih suka memelihara anjing. Mungkin bagi mereka anjing lebih mudah di atur, tidak menyusahkan dan nurut.
Mereka tidak punya tujuan dalam kehidupan ini, maka bagi mereka bila anak akan menyusahkan mereka, mengapa mereka pelihara, tapi ada juga orang Jerman yang punya anak banyak. Sebenarnya bukan anak-anak Jerman saja yang mempunyai karakter keras dan suka membangkang, anak-anak lain juga demikian, mungkin ini tergantung dari peran seorang Ibu di rumah, maka Ibu di katakan oleh Rosulullah sebagai " Sekolah " bagi anak-anaknya, mungkin itu maksudnya, anak-anak akan berakhlaq mulia, bila seorang Ibu baik dalam mendidiknya.
Teman saya pernah bercerita, suatu hari temannya di kunjungi oleh Ibunya untuk membantu dia (temannya), yang baru saja melahirkan. Dan teman saya benar-benar sangat sedih, melihat perlakuan temannya itu terhadap ibunya, kata-katanya agak kasar dan kurang sopan, saya yang mendengar cerita itu, langsung teringat akan Ibu saya. Karena saat ini saya pun jadi seorang ibu dari 3 anak, saya ingin anak-anak saya berbakti pada kedua orang tuanya. Saya sendiri merasa belum sempat membalas kebaikan Ibu saya, yang sudah melahirkan saya ke dunia ini dan membesarkan saya. Beliau tidak bimbang ketika saya menikah dengan orang yang belum sama sekali beliau kenal, bahkan beliau mengikhlaskan ketika saya harus pergi jauh meninggalkan beliau.
Betapa besarnya pengorbanan seorang Ibu, ketika melahirkan anaknya, Ibu berani mempertaruhkan nyawanya, dan dia rela membesarka anak-anaknya, dengan mengenyampingkan keinginannya, ibu menjaga anak-anaknya dengan penuh kasih sayang agar tumbuh dengan baik. Ketika anak-anaknya sudah besar, hanya Air mata saja yang sering menetes di pipinya, ketika si anak mulai melawan dan berkata kurang sopan, namun doanya tak pernah terputus, hingga kini. Doa yang senantiasa di panjatkannya demi untuk kebahagiaan anak-anaknya, serta kesuksesannya yang akan membawa keberkahan pada anak-anaknya, kadang anaknya mengklaim bahwa semua kesuksesan yang di dapat adalah hasil dari usahanya sendiri. Adakah kita sadar tanpa doa dari beliau belum tentu kesuksesan menghampiri kita.
Ketika si anak mulai merasa, si Ibu mengganggu dalam rumah tangganya, maka dia pergi pindah menjauh dari rumah Orang tuanya, apa yang sudah di berikan oleh Ibunya sebagai bekal, sudah tidak berguna lagi, karena si anak sudah menjadi orang sukses, adakah Ibu meminta bagian dari hasil kesuksesan anak-anaknya, tidak....
Saya pernah menyaksikan langsung, seorang ibu yang pikun akibat dari kelakuan jahat anak lelakinya, yang menjual rumahnya tanpa permisi oleh ibunya, padahal rumah itu adalah warisan dari suaminya yang telah pergi meninggalkannya lebih dulu. Apa yang di kerjakan oleh ibu yang sudah pikun itu sangat menyedihkan, karena kebiasaan si ibu menyapu halaman rumahnya setiap pagi, maka sering sekali ibu itu hilang dan di temukan sedang menyapu di tempat-tempat pembuangan sampah. Sungguh menyedihkan bukan. Inilah satu contoh kasih anak yang hanya sepanjang penggalan ( galah ).
Namun kasih Ibu tak pernah terhenti, walaupun dera sakit yang di buat oleh si anak, serta kekecewaan yang di dapat.
Itulah Kasih Ibu yang Indah dan tak terbalaskan, apa yang kita berikan tidak seberapa, dari apa yang sudah beliau berikan sejak kita masih dalam kandungan.
Tidak kah kita merasakan hal itu saat ini....?, ketika kita sudah berumah tangga. Melahirkan dan membesarkan anak-anak kita seorang diri, tanpa bantuan dari siapa pun, adakah di benak kita untuk membalas semua yang telah di berikan oleh ibu kita...?.
Syurga ada di telapak kaki Ibu, itu bukan hanya kiasan, tapi kenyataan, kebanyak kan mereka yang sukses dalam bekerja dan berumah tangga, adalah hasil dari keikhlasan dan Do´a seorang Ibu.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al Ahqaaf 46 :15
”Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdo’a : ”Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal shaleh yang Engkau ridhai, dan berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. Al Ahqaaf 46 :15).
Dan diperjelas, dalam sabda Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah r.a ;
”Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, ”Ya, Rasulullah, siapakah dari keluargaku yang paling berhak dengan kebaktianku yang terbaik ?,
jawab beliau, ”Ibumu !, dia bertanya, kemudian siapa ?
Rasulullah menjawab, “Ibumu !, dia bertanya, kemudian siapa ?
Rasulullah menjawab, “Ibumu !, dia bertanya, kemudian siapa ?
Rasulullah menjawab, “Bapakmu !
Maka bila kita ingin menggapai keridahoan dari Allah SWT, cintailah Orang tua kita, agar beliau senantiasa meridhoi kita dalam semua pekerjaan yang kita lakukan.
Sabda Rosululloh SAW : " Ridho ALLAH tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka ALLAH tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban)
Wallahu´alam bishawab.
Heidenheim, 16 Februari 2009
( Teruntuk saudari2 ku yang sudah jadi Ibu dan yang mempunyai Ibu )
Artikel di bawah adalah salah satunya, semoga kita mampu mengambil hikmah dan manfaat darinya ...
Semoga bermanfaat ..
Kasih Ibu Sepanjang Jalan, Kasih Anak Sepanjang Penggalan
oleh : Ummu Mufais Jumat, 20/02/2009 13:45 WIB
Eramuslim
" Kasih Ibu kepada beta...tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia "
Penggalan lagu di atas mengingatkan saya ketika kecil dulu, sering sekali saya menyanyikannya. Cinta Ibu tak dapat terbalaskan, mungkin itu kata-kata yang sering kita ucapkan sebagai anak, karena setiap Ibu selalu memberikan kasih sayangnya dengan tulus, pada anak-anaknya, tanpa meminta bayaran, atau balasan dari semua kasih sayang yang telah di berikannya. Namun adakalanya ketika anak-anak sudah besar banyak perbedaan yang menimbulkan pertengkaran pada keduanya. Keinginan-keinginan anak suka berbenturan dengan Orang tua, terutama Ibu. Kadang si Ibu ingin yang A, tapi si anak ingin yang B.
Apa lagi kalau saya lihat kehidupan di Jerman, banyak sekali perbedaan yang mencolok, antara orang tua dan anak, terutama ketika anak-anaknya mulai beranjak dewasa, kebebasan sudah mulai menjadi teman si anak, entah itu dari mulai senang pesta, merokok, dan berpakaian dengan model yang aneh-aneh.
Adakalanya si Ibu suka mungkin merasa anaknya sudah besar, adakalanya tidak. Seperti beberapa waktu lalu saya melihat di TV, ada seorang anak yang tidak di izinkan oleh ibunya untuk bergaul dengan anak-anak jalanan, umur mereka kira-kira 18 tahun, mereka seringnya kumpul-kumpul di tempat-tempat tertentu sambil minum-minuman keras. Tapi karena anak itu tidak terima saat di larang, maka dia pergi meninggalkan rumah orang tuanya. Disinilah sebenarnya peran Orang tua menjadi tidak bermanfaat, karena mereka lebih memilih jalan hidup mereka sendiri dan kesenangan mereka. Sehingga melupakan Orang tuanya, yang telah melahirkan dan membesarkannya.
Seperti susu di balas dengan air tuba, begitulah peribahasa yang sering kita dengar, ketika si anak mulai membangkang dan mulai mengabaikan semua keinginan serta nasehat orang tuanya. Kadang kesalahan tidak melulu pada si anak, kemungkinan besar ada juga pada orang tuanya yang kurang tegas pada si anak dan seringnya si anak di beri kelonggaran, sehingga buat si anak jadi terbiasa. Dan kebiasaan-kebiasaan buruk si anak yang tidak terkontrol, sehingga kebabalasan, yang akhirnya menjadi candu untuk anak itu sendiri. Saya melihat ada beberapa orang Jerman yang merasa berat untuk memiliki anak, sehingga mereka lebih suka memelihara anjing. Mungkin bagi mereka anjing lebih mudah di atur, tidak menyusahkan dan nurut.
Mereka tidak punya tujuan dalam kehidupan ini, maka bagi mereka bila anak akan menyusahkan mereka, mengapa mereka pelihara, tapi ada juga orang Jerman yang punya anak banyak. Sebenarnya bukan anak-anak Jerman saja yang mempunyai karakter keras dan suka membangkang, anak-anak lain juga demikian, mungkin ini tergantung dari peran seorang Ibu di rumah, maka Ibu di katakan oleh Rosulullah sebagai " Sekolah " bagi anak-anaknya, mungkin itu maksudnya, anak-anak akan berakhlaq mulia, bila seorang Ibu baik dalam mendidiknya.
Teman saya pernah bercerita, suatu hari temannya di kunjungi oleh Ibunya untuk membantu dia (temannya), yang baru saja melahirkan. Dan teman saya benar-benar sangat sedih, melihat perlakuan temannya itu terhadap ibunya, kata-katanya agak kasar dan kurang sopan, saya yang mendengar cerita itu, langsung teringat akan Ibu saya. Karena saat ini saya pun jadi seorang ibu dari 3 anak, saya ingin anak-anak saya berbakti pada kedua orang tuanya. Saya sendiri merasa belum sempat membalas kebaikan Ibu saya, yang sudah melahirkan saya ke dunia ini dan membesarkan saya. Beliau tidak bimbang ketika saya menikah dengan orang yang belum sama sekali beliau kenal, bahkan beliau mengikhlaskan ketika saya harus pergi jauh meninggalkan beliau.
Betapa besarnya pengorbanan seorang Ibu, ketika melahirkan anaknya, Ibu berani mempertaruhkan nyawanya, dan dia rela membesarka anak-anaknya, dengan mengenyampingkan keinginannya, ibu menjaga anak-anaknya dengan penuh kasih sayang agar tumbuh dengan baik. Ketika anak-anaknya sudah besar, hanya Air mata saja yang sering menetes di pipinya, ketika si anak mulai melawan dan berkata kurang sopan, namun doanya tak pernah terputus, hingga kini. Doa yang senantiasa di panjatkannya demi untuk kebahagiaan anak-anaknya, serta kesuksesannya yang akan membawa keberkahan pada anak-anaknya, kadang anaknya mengklaim bahwa semua kesuksesan yang di dapat adalah hasil dari usahanya sendiri. Adakah kita sadar tanpa doa dari beliau belum tentu kesuksesan menghampiri kita.
Ketika si anak mulai merasa, si Ibu mengganggu dalam rumah tangganya, maka dia pergi pindah menjauh dari rumah Orang tuanya, apa yang sudah di berikan oleh Ibunya sebagai bekal, sudah tidak berguna lagi, karena si anak sudah menjadi orang sukses, adakah Ibu meminta bagian dari hasil kesuksesan anak-anaknya, tidak....
Saya pernah menyaksikan langsung, seorang ibu yang pikun akibat dari kelakuan jahat anak lelakinya, yang menjual rumahnya tanpa permisi oleh ibunya, padahal rumah itu adalah warisan dari suaminya yang telah pergi meninggalkannya lebih dulu. Apa yang di kerjakan oleh ibu yang sudah pikun itu sangat menyedihkan, karena kebiasaan si ibu menyapu halaman rumahnya setiap pagi, maka sering sekali ibu itu hilang dan di temukan sedang menyapu di tempat-tempat pembuangan sampah. Sungguh menyedihkan bukan. Inilah satu contoh kasih anak yang hanya sepanjang penggalan ( galah ).
Namun kasih Ibu tak pernah terhenti, walaupun dera sakit yang di buat oleh si anak, serta kekecewaan yang di dapat.
Itulah Kasih Ibu yang Indah dan tak terbalaskan, apa yang kita berikan tidak seberapa, dari apa yang sudah beliau berikan sejak kita masih dalam kandungan.
Tidak kah kita merasakan hal itu saat ini....?, ketika kita sudah berumah tangga. Melahirkan dan membesarkan anak-anak kita seorang diri, tanpa bantuan dari siapa pun, adakah di benak kita untuk membalas semua yang telah di berikan oleh ibu kita...?.
Syurga ada di telapak kaki Ibu, itu bukan hanya kiasan, tapi kenyataan, kebanyak kan mereka yang sukses dalam bekerja dan berumah tangga, adalah hasil dari keikhlasan dan Do´a seorang Ibu.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al Ahqaaf 46 :15
”Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdo’a : ”Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal shaleh yang Engkau ridhai, dan berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. Al Ahqaaf 46 :15).
Dan diperjelas, dalam sabda Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah r.a ;
”Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, ”Ya, Rasulullah, siapakah dari keluargaku yang paling berhak dengan kebaktianku yang terbaik ?,
jawab beliau, ”Ibumu !, dia bertanya, kemudian siapa ?
Rasulullah menjawab, “Ibumu !, dia bertanya, kemudian siapa ?
Rasulullah menjawab, “Ibumu !, dia bertanya, kemudian siapa ?
Rasulullah menjawab, “Bapakmu !
Maka bila kita ingin menggapai keridahoan dari Allah SWT, cintailah Orang tua kita, agar beliau senantiasa meridhoi kita dalam semua pekerjaan yang kita lakukan.
Sabda Rosululloh SAW : " Ridho ALLAH tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka ALLAH tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban)
Wallahu´alam bishawab.
Heidenheim, 16 Februari 2009
( Teruntuk saudari2 ku yang sudah jadi Ibu dan yang mempunyai Ibu )
Sesungguhnya Kita KAYA
Seringkali kita terlampau tenggelam pada banyak hal yang belum atau tidak kita miliki. Iri dengki kerap kali muncul manakala kita hanya bisa termangu melihat mimpi-mimpi kita yang kebetulan melekat pada saudara kita. Keluhan, protes, dan semacamnya sering terlontar baik sadar maupun tidak pada Tuhan yang kita anggap tak adil ... Kita lupa bahwa banyak sekali kenikmatan yang ada pada kita saat ini yang didambakan oleh orang lain di luar sana .. Ketahuilah bahwa rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau .. yang perlu kita lakukan adalah BERSYUKUR ...
Tulisan berikut semoga dapat menggugah kita ..
Jazakallohu khoir pada ukhti Yusi untuk artikel bagus ini ...
SYAHDAN, seorang saudagar tua keluar dari rumahnya yang megah bak istana. Tampak seorang anak muda duduk murung di depan rumahnya. Sebentar-sebentar anak muda itu menghela nafas panjang. Si saudagar menghampiri dan bertanya, “Anak muda, kenapa mukamu begitu murung, apakah kamu sedang ditimpa kemalangan?”
Sambil menggelengkan kepala dia menjawab, “Aku orang miskin, nasibku jelek, tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan dan sering kelaparan. Bagaimana aku tidak murung?”
“Haha, seharusnya kamu gembira karena sebenarnya kamu kaya raya.”
“Tolong, Pak Tua, jangan permainkan aku. Aku tidak sedang bergurau,”kata si pemuda dengan kesal.
“Baiklah, aku ingin bertanya. Jika aku membayar 10 keping emas, maukah kamu menukarkan kesehatan badanmu, dan besok kamu menderita sakit?”
“Tidak mau!” jawab pemuda itu.
“Jika aku bayar lagi 20 keping emas, maukah kamu menukarkan keremajaanmu, dan besok kamu berubah menjadi kakek-kakek?”
“Tidak mau!”
“Aku tambahkan lagi 30 keping emas. Maukah kamu menukarkan kecakapanmu, dan besok kamu berubah bermuka jelek menyeramkan?”
“Tidak mau!”
“Sekarang, aku bayar 40 keping emas. Maukah kamu menukarkan kebijaksanaanmu, dan besok berubah menjadi orang bodoh dan idiot? Dan terakhir, aku tambah lagi 50 keping emas, maukah kamu menukarkan nuranimu, dan besok kamu boleh mulai
menipu dan membunuh orang?”
“Tidak mau!”
“Nah, aku sudah menawarkan kepadamu total 150 keping emas. Tetapi, tidak bisa membeli apapun dari dirimu. Berarti apa yang tidak mau kamu jual pasti tidak ternilai harganya. Sesungguhnya kekayaan yang melekat pada dirimu berharga jauh melebihi 150 keping emas. Itulah modalmu.
Maka, berusahalah. Dibandingkan dengan apapun, dirimu dan kehidupan yang kamu miliki saat ini adalah jauh lebih berharga. Karena selama kamu masih mempunyai kehidupan, apapun yang kamu inginkan, asalkan mau berusaha dan berjuang dengan sungguh-sungguh, suatu hari pasti akan menjadi lebih kaya dari hari ini.”
Mendengar kata-kata si kakek, si anak muda seketika tersadar. Dia pun segera bangkit berucap, “Kakek, terima kasih atas penawaran kebijakanmu. Berapapun yang ditawarkan, aku tidak akan menukar dengan apapun yang aku miliki. Aku sungguh malu dan menyesal telah menyia-nyiakan masa mudaku dengan selalu murung, menyesali nasib dan malas berusaha.
Sekarang aku sadar, ternyata aku bukanlah orang miskin. Aku punya modal yang cukup. Aku berjanji mulai saat ini tidak akan mengeluh dan rajin berusaha untuk menambah kekayaaan yang telah aku miliki.”
Dan, pemuda itu pun bergegas pergi untuk memulai lembaran hidup barunya. (*)
***
Masihkah Anda merasa kurang beruntung hari ini dibandingkan orang lain?
Dua mata yang masih bisa melihat dengan normal, lidah yang tidak bisu, dua tangan dengan jari-jari utuh, telinga yang tidak tuli, dan dua kaki yang sempurna.
Apakah Anda harus berjalan kesana kemari dengan menggunakan kruk karena kaki Anda buntung satu? Apakah kulit tubuh Anda mengelupas mengerikan karena terserang penyakit lepra? Sudahkah Anda dengar atau baca berita hari ini tentang kematian si A, sementara Anda masih diberi kesempatan hidup oleh-Nya?
Tahukah Anda ‘Atha’ bin Rabah, orang yang paling alim pada zamannya itu adalah seorang mantan budak berkulit hitam, berhidung pesek, lumpuh tangannya, dan berambut keriting? Ahnaf bin Qais, orang Arab yang dikenal paling sabar dan penyantun ini sangat kurus tubuhnya, bongkok punggungnya, melengkung betisnya dan lemah postur tubuhnya?
Atau Al-A’masy, ahli hadis kenamaan di dunia ini adalah sosok manusia yang sayu sorot matanya, mantan seorang budak yang fakir, compang-camping baju yang dikenakannya, dan tidak menarik penampilan diri dan rumahnya?
Acapkali kita memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga kita lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Jiwa kita mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera, padahal kita masih memegang kunci kebahagiaan yang sesungguhnya.
Maka, mari pikirkan dan renungkan kembali apa yang ada pada diri dan apa saja yang tersedia di sekeliling kita. Dan belajar untuk lebih mensyukurinya.
4 Mei 2oo9 o4:21 a.m.
(*) Dikutip dari Kekayaan Sejati dalam Audiobook Wisdom and Motivation Series 3 oleh Andre Wongso
Tulisan berikut semoga dapat menggugah kita ..
Jazakallohu khoir pada ukhti Yusi untuk artikel bagus ini ...
SYAHDAN, seorang saudagar tua keluar dari rumahnya yang megah bak istana. Tampak seorang anak muda duduk murung di depan rumahnya. Sebentar-sebentar anak muda itu menghela nafas panjang. Si saudagar menghampiri dan bertanya, “Anak muda, kenapa mukamu begitu murung, apakah kamu sedang ditimpa kemalangan?”
Sambil menggelengkan kepala dia menjawab, “Aku orang miskin, nasibku jelek, tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan dan sering kelaparan. Bagaimana aku tidak murung?”
“Haha, seharusnya kamu gembira karena sebenarnya kamu kaya raya.”
“Tolong, Pak Tua, jangan permainkan aku. Aku tidak sedang bergurau,”kata si pemuda dengan kesal.
“Baiklah, aku ingin bertanya. Jika aku membayar 10 keping emas, maukah kamu menukarkan kesehatan badanmu, dan besok kamu menderita sakit?”
“Tidak mau!” jawab pemuda itu.
“Jika aku bayar lagi 20 keping emas, maukah kamu menukarkan keremajaanmu, dan besok kamu berubah menjadi kakek-kakek?”
“Tidak mau!”
“Aku tambahkan lagi 30 keping emas. Maukah kamu menukarkan kecakapanmu, dan besok kamu berubah bermuka jelek menyeramkan?”
“Tidak mau!”
“Sekarang, aku bayar 40 keping emas. Maukah kamu menukarkan kebijaksanaanmu, dan besok berubah menjadi orang bodoh dan idiot? Dan terakhir, aku tambah lagi 50 keping emas, maukah kamu menukarkan nuranimu, dan besok kamu boleh mulai
menipu dan membunuh orang?”
“Tidak mau!”
“Nah, aku sudah menawarkan kepadamu total 150 keping emas. Tetapi, tidak bisa membeli apapun dari dirimu. Berarti apa yang tidak mau kamu jual pasti tidak ternilai harganya. Sesungguhnya kekayaan yang melekat pada dirimu berharga jauh melebihi 150 keping emas. Itulah modalmu.
Maka, berusahalah. Dibandingkan dengan apapun, dirimu dan kehidupan yang kamu miliki saat ini adalah jauh lebih berharga. Karena selama kamu masih mempunyai kehidupan, apapun yang kamu inginkan, asalkan mau berusaha dan berjuang dengan sungguh-sungguh, suatu hari pasti akan menjadi lebih kaya dari hari ini.”
Mendengar kata-kata si kakek, si anak muda seketika tersadar. Dia pun segera bangkit berucap, “Kakek, terima kasih atas penawaran kebijakanmu. Berapapun yang ditawarkan, aku tidak akan menukar dengan apapun yang aku miliki. Aku sungguh malu dan menyesal telah menyia-nyiakan masa mudaku dengan selalu murung, menyesali nasib dan malas berusaha.
Sekarang aku sadar, ternyata aku bukanlah orang miskin. Aku punya modal yang cukup. Aku berjanji mulai saat ini tidak akan mengeluh dan rajin berusaha untuk menambah kekayaaan yang telah aku miliki.”
Dan, pemuda itu pun bergegas pergi untuk memulai lembaran hidup barunya. (*)
***
Masihkah Anda merasa kurang beruntung hari ini dibandingkan orang lain?
Dua mata yang masih bisa melihat dengan normal, lidah yang tidak bisu, dua tangan dengan jari-jari utuh, telinga yang tidak tuli, dan dua kaki yang sempurna.
Apakah Anda harus berjalan kesana kemari dengan menggunakan kruk karena kaki Anda buntung satu? Apakah kulit tubuh Anda mengelupas mengerikan karena terserang penyakit lepra? Sudahkah Anda dengar atau baca berita hari ini tentang kematian si A, sementara Anda masih diberi kesempatan hidup oleh-Nya?
Tahukah Anda ‘Atha’ bin Rabah, orang yang paling alim pada zamannya itu adalah seorang mantan budak berkulit hitam, berhidung pesek, lumpuh tangannya, dan berambut keriting? Ahnaf bin Qais, orang Arab yang dikenal paling sabar dan penyantun ini sangat kurus tubuhnya, bongkok punggungnya, melengkung betisnya dan lemah postur tubuhnya?
Atau Al-A’masy, ahli hadis kenamaan di dunia ini adalah sosok manusia yang sayu sorot matanya, mantan seorang budak yang fakir, compang-camping baju yang dikenakannya, dan tidak menarik penampilan diri dan rumahnya?
Acapkali kita memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga kita lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Jiwa kita mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera, padahal kita masih memegang kunci kebahagiaan yang sesungguhnya.
Maka, mari pikirkan dan renungkan kembali apa yang ada pada diri dan apa saja yang tersedia di sekeliling kita. Dan belajar untuk lebih mensyukurinya.
4 Mei 2oo9 o4:21 a.m.
(*) Dikutip dari Kekayaan Sejati dalam Audiobook Wisdom and Motivation Series 3 oleh Andre Wongso
Langganan:
Postingan (Atom)